Anggota V Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Isma Yatun berharap agar perempuan khususnya yang berprofesi sebagai auditor dapat meningkatkan kemampuannya dan harus mempunyai keterampilan.

“Untuk bisa menjadi terus berprestasi, perempuan harus meningkatkan kemampuannya, perempuan juga harus mempunyai keterampilan,” ungkapnya pada Seminar Nasional Auditor bertema “Perempuan dalam Profesi Audit Internal di Indonesia” di Gedung Nusantara DPR RI, Jakarta, pada Selasa (02/4).

Pada kesempatan yang diselenggarakan oleh Inspektorat Utama DPR RI dengan Institute of Internal Auditors (IIA) tersebut, Anggota BPK mengungkapkan, bahwa tantangan sebagai perempuan adalah sampai saat ini persentase perempuan yang menduduki posisi strategis relatif masih kecil.

Namun demikian, dirinya berkeyakinan, bahwa hak dan kesempatan untuk menduduki jabatan strategis sudah sangat dimiliki oleh perempuan, baik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif maupun di lembaga swasta yang besar. Hal tersebut dibuktikan oleh Isma Yatun dengan menjadi perempuan yang pertama sebagai Anggota BPK setelah 70 tahun BPK berdiri.

Oleh karena itu, ia berharap, ke depan dirinya bukanlah Anggota BPK perempuan satu-satunya. “Sampai saat ini saya masih belum punya teman, saya berharap suatu saat saya punya teman perempuan bisa menjadi Anggota BPK,” ungkapnya.

Selain Anggota BPK, seminar yang diselenggarakan untuk mengenalkan profesi audit khususnya bagi perempuan tersebut juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI, Utut Adianto sebagai keynote speaker, Sekretaris Jenderal DPR RI, Indra Iskandar dan sejumlah pembicara dari berbagai kementerian, lembaga serta korporasi.

Seminar yang dilaksanakan dalam rangka memperingati International Internal Audit Awareness Month dan Hari Kartini tersebut, diharapkan dapat menjadi ajang saling bertukar pikiran dan berbagi pengalaman para auditor dalam mencari mekanisme audit yang terbaik bagi masing-masing instansi.