JAKARTA, Humas BPK – Metode pendekatan untuk memahami masa depan sudah eksis dan menjadi bagian dari literasi manajemen strategis, dan bahkan menjadi peran tertinggi dari Supreme Audit Institution (SAI) seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) disebut sebagai foresight. Dengan demikian, secara sederhana, foresight dapat didefinisikan sebagai pendekatan yang digunakan untuk memahami kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan.

Ketua BPK Agung Firman Sampurna memaparkan, foresight atau lengkapnya, strategic foresight, tidak dimaksudkan untuk menawarkan jawaban pasti tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Foresight digunakan untuk memahami masa depan sebagai semacam gejala yang muncul dan hanya terlihat sebagian di masa sekarang.

“Tidak akan pernah ada bukti kuat dan lengkap tentang masa depan. karena tujuan foresight memang bukan untuk “mendapatkan masa depan yang benar”, tetapi untuk memperluas dan merangkai ulang berbagai perkembangan yang masuk akal yang perlu dipertimbangkan,” ungkap Ketua BPK dalam orasinya yang disampaikan pada Webinar Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjajaran (Unpad) ke-64, pada Rabu (10/11/2021).

“Dengan mempelajari foresight, kita dapat menganalisis, memahami, mengantisipasi dan mengelola berbagai permasalahan yang akan timbul dimasa yang akan datang, sebagaimana ungkapan pujangga besar Romawi, Publius Virgillius Maro (70-19 S.M) yang menyebutkan Ab uno disce ones : from one learn all, atau dengan mempelajari satu kita dapat memahami banyak hal,” imbuhnya dalam webinar yang turut menghadirkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno dan Guru Besar FEB Unpad Ilya Avianti sebagai narasumber.

Ketua BPK menambahkan bahwa selaras dengan kondisi VUCA (volatility, uncertainty, complexity and ambiguity) sebagai tantangan masa depan, maka dalam konteks tata kelola, foresight juga menyediakan metodologi terstruktur yang rigid untuk membantu organisasi dalam mengelola dalam kondisi VUCA. Melalui perangkatnya, dengan menggunakan metode foresight maka akan dapat lebih memahami masa depan yang mungkin (possible), masuk akal (plausible), dan memungkinkan (probable), serta untuk memperkuat kapasitas tata kelola agar tangguh (resilient) menghadapi dunia yang terus berubah serta risiko guncangan dan tekanan.

“Foresight akan dapat digunakan untuk memperkuat tata kelola, utamanya dengan cara menyiapkan langkah antisipatif yang lebih memadai dalam rangka merespons perubahan yang mungkin timbul di masa depan. Selain itu, foresight juga dapat digunakan mengembangkan inovasi dalam berbagai kebijakan, dengan antara lain, membangun terobosan baru sebagai hasil dari identifikasi atas sejumlah risiko masalah dan peluang yang potensial,” jelasnya dalam webinar yang mengusung tema “Collaborative Governance untuk Mewujudkan Business Sustainability dan Resilience dalam Hybrid Economy“.

“Oleh karena, cara pandang baru dalam pembelajaran, penelitian dan pengembangan dan perencanaan dengan menerapkan konsep learning from the future, melalui strategic foresight, dapat dijadikan sebagai arah untuk mengembangkan berbagai upaya, maupun terobosan yang mungkin dilakukan. Kita perlu melampaui batas kemampuan kita, sebagaimana yang dikemukakan penulis, futuris dan inventor, Sir Arthur Charles Clark, The limit of possible is to go beyond them into the imposible,” pungkasnya.

Hadir dalam webinar ini Rektor Universitas Padjajaran Rina Indiastuti, Dekan FEB Universitas Padjajaran Nunuy Nur Afiah, Wakil Dekan FEB Universitas Padjajaran Kurniawan Saefullah dan diikuti oleh lebih dari 900 orang peserta.