Badan Pemeriksa Keuangan menelusuri informasi aliran dana Rp 143 miliar dari Kementerian Kesehatan ke Universitas Airlangga, Surabaya. Dana itu dialihkan ke Unair untuk membangun Laboratorium Bio Safety Level 3 yang memproduksi vaksin flu burung.

Untuk menelusuri hal ini, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak menutup kemungkinan membentuk tim baru karena audit pengadaan fasilitas produksi, riset, dan alih teknologi vaksin flu burung sebetulnya kini sedang dalam tahap penyelesaian.

Demikian diungkapkan anggota BPK, Rizal Djalil, saat dikonfirmasi pada Senin (19/3), di Gedung BPK, Jakarta. “Kami akan mendalami secara menyeluruh dengan audit BPK yang akan diselesaikan,” kata Rizal.

Informasi yang berkembang, ada dana Rp 143 miliar yang dialihkan dari Daftar Isian Pe laksanaan Anggaran (DIPA) Kementerian Kesehatan ke Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Dana yang diatur oleh seorang berinisial SS itu digunakan untuk membiayai pembangunan Laboratorium Bio Safety Level 3 (BSL 3). Namun, proyek itu belum terwujud.

BPK sendiri saat ini, tengah melakukan audit terhadap dana pengadaan fasilitas produksi, riset, dan alih teknologi vaksin flu burung 2008-2010 sebesar Rp 718,8 miliar. Dana itu hanya sebagian dari total dana keseluruhan untuk proyek terkait vaksin flu burung yang mencapai Rp 1,39 triliun.

Tidak angkat telepon

Anggota Majelis Wali Amanat Unair, Sam Soeharto, sempat mengangkat teleponnya saat dihubungi pada Senin sore. Namun, saat disebutkan Kompas meminta konfirmasi soal pengadaan Laboratorium BSL 3, tiba-tiba telepon terputus. Kompas yang berkali-kali mengontaknya, termasuk ke nomor lain, hingga Senin malam gagal mendapat konfirmasi. Rektor Unair, Fasich juga tak mengangkat teleponnya.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Unair, Mangestuti Agil mengatakan, sejak lama Unair sudah berhasil membangun Laboratorium BSL 3 yang menghasilkan seed vaccine atau induk vaksin untuk pembuatan vaksin.

Secara terpisah, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan Murti Utami tak mau berkomentar panjang soal hasil audit BPK terhadap pengadaan fasilitas produksi, riset, dan alih teknologi vaksin flu burung. “Kami menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk memeriksa dan menginvestigasinya,” ujar Murti.

Sebelumnya, dari informasi yang ditelusuri Kompas dan dibenarkan BPK disebutkan adanya sejumlah temuan penyimpangan dalam pengadaan fasilitas produksi, riset, dan alih teknologi vaksin flu burung. BPK juga sedang menyelidiki dugaan penggelembungan biaya dengan nilai sementara Rp 314 miliar.

Kompas