Kamis, 18 Juli 2013, BPK Pusat dan Perwakilan berkumpul dalam Workshop Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Inspektorat Utama (Itama) BPK Tahun 2013, di Century Park Hotel, Jakarta. Workshop yang berlangsung dua hari ini diikuti oleh para Kepala Perwakilan dan pejabat eselon II lainnya, pejabat eselon III di Pusat dan Perwakilan, serta dihadiri oleh para pejabat eselon I.
Inspektur Utama BPK, Mahendro Sumardjo pada awal acara melaporkan bahwa workshop ini perlu dilakukan karena hasil temuan pengawasan dan reviu Itama masih ditemukan hal-hal yang menyangkut strategi pengembangan BPK. “Sehingga diperlukan masukan dari seluruh pimpinan satker, serta perlu untuk mengetahui rencana aksi yang dilakukan satker atas rekomendasi dari laporan kami. Hasil inventarisasi permasalahan dari 2008 sampai dengan 2012, masih ada sekitar 522 saran dan rekomendasi yang belum ditindaklanjuti,” ungkap Irtama.
Dalam laporannya, Irtama juga menjelaskan peran yang dilakukan Itama sebagai upaya mendorong pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara di lingkungan BPK, melalui pengawasan internal secara efektif.
Peran yang dilakukan Itama adalah peningkatan kualitas laporan keuangan melalui reviu laporan keuangan BPK, peningkatan kualitas laporan hasil pemeriksaan yang merupakan produk utama BPK, peningkatkan kualitas sistem pengendalian internal melalui pemeriksaan internal atas seluruh pelaksanaan di lingkungan BPK, peran sebagai pemastian peningkatan kepatuhan atas nilai integritas dan independensi BPK, serta peningkatan akuntabilitas kinerja BPK, termasuk dalam peran ini adalah penilaian mandiri pelaksanaan reformasi birokarasi.
Workshop ini dibuka oleh Wakil Ketua BPK Hasan Bisri, yang dalam sambutannya menyebutkan bahwa workshop ditujukan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan dan individu. Wakil Ketua memberi apresiasi terhadap peran-peran yang dilakukan Itama selama ini. “Ada perubahan paradigma yang mendasar atas peran Itama. Dulu Itama dikenal hanya mencari kesalahan orang, ini kita ubah menjadi bagaimana Itama membantu pelaksanaan dalam meningkatkan hasil pemeriksaan,” tegas Wakil Ketua.
Peran Itama menurut Wakil Ketua sudah meningkat kualitasnya, terutama dalam pelaksanaan reviu terhadap laporan keuangan BPK. “Dalam menyongsong peer review, Itama akan bertindak sebagai counterpart, dan satker akan menjadi pihak yang menjadi sampling untuk memastikan apakah pemeriksaan BPK sudah sesuai standard. Sebagai pengawas internal, Itama harus menjadi filter terakhir BPK,” pesan Wakil Ketua.
Workshop juga menghadirkan narasumber Theodorus M Tuanakotta yang memaparkan penguatan internal control dalam rangka meningkatkan kualitas laporan hasil pemeriksaan dan produk BPK lainnya melalui peran dan fungsi Inspektorat Utama. Pada hari kedua, dilakukan penandatanganan risalah hasil pembahasan dan matriks tindak lanjut hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh para pimpinan satker (pejabat eselon I dan II).